IndonesiaReview

    19-11-2018

    Hypebeast: Saat kebebasan berekspresi berbayang perilaku konsumtif

    Hypebeast merupakan tagar yang seringkali digunakan oleh para sosialita atau pun generasi muda saat ini. Jika Anda termasuk penggemar fashion dengan segala barang bermerek khas anak muda yang berjamur belakangan ini, Anda tentunya tidak asing lagi dengan istilah hypebeast. Dijelaskan dalam kamus daring Urban Dictionary, hypebeast merupakan istilah yang menggambarkan anak muda dengan kegemarannya mengoleksi pakaian, sepatu, dan aksesori untuk terlihat menarik di depan orang lain. Makna lain yang dijelaskan dalam kamus tersebut yakni penggambaran slang bagi mereka yang terobsesi (beast) dengan segala sesuatu yang menjadi tren saat ini (hype), khususnya untuk urusan penampilan (fashion).

    Streetwear merupakan pakaian yang sangat erat kaitannya dengan para hypebeast. Hiroshi Fujiwara yang dikenal sebagai “Godfather of Japanese Streetwear” merupakan sosok penting yang memperkenalkan gaya punk, hip-hop, hingga skateboarding melalui perjalanannya dari Jepang ke London, beralih ke New York, hingga kembali lagi ke Jepang pada tahun 1980. Terdapat sebuah kalimat yang ia gambarkan terkait dengan tren hypebeast “People think that streetwear is sneaker culture, but I think it is more than that – it is about the attitude you have.” Tutur pria yang dikenal sebagai DJ hip-hop pertama di Jepang tersebut.

    Produk hypebeast merupakan produk yang seringkali nilainya memiliki harga jual tinggi dengan pangsa pasar utamanya menyasar generasi muda, salah satunya yakni brand Supreme. Perusahaan ini membuat kaus buatannya dengan jumlah yang terbatas (limited edition) hingga menjadikannya sangat menarik dan mampu menawarkan produk dengan harga jual diatas rata-rata produk sejenis. Produk-produk yang tergolong hypebeast ini pun seringkali memiliki banyak pelanggan setia, ditandai dengan panjangnya antrian konsumen ketika brand kesayangan mereka baru saja meluncurkan koleksi terbarunya, seperti yang sering terlihat dalam outlet Supreme sesaat setelah mereka mempromosikan koleksi terbarunya.

    Fashion item yang tak luput dari koleksi para hypebeast selanjutnya adalah sepatu sebagai elemen penting pelengkap outfit of the day (OOTD). Terdapat beragam brand yang tergolong hypebeast, misalnya Converse, Adidas, Nike, Comme des Garçons, dan brand terkenal lain dengan harga selangit. Tentu merupakan hal yang wajar ketika seseorang membeli sebuah produk dengan nilai tinggi, namun diimbangi dengan kualitas produk yang juga tinggi. Namun, permasalahan yang seringkali melekat pada orang hypebeast adalah citra konsumtif yang membuat mereka terkesan ‘latah’ untuk membeli koleksi terbaru dengan nilai tinggi, meskipun secara fungsi, mereka masih memiliki produk serupa yang bahkan dari brand yang sama.

    Koleksi selanjutnya yang turut memenuhi daftar produk hypebeast yakni brand Anti Social Social Club (AASC) yang digagas oleh seniman musik asal Korea, Neek Lurk. Siapa sangka ternyata brand indie yang lahir tanpa adanya niatan komersil ini justru mampu mencuri perhatian dan laris di pasaran, lengkap dengan penggunaan istilahnya yang juga menjadi tren di awal tahun 2017. Awalnya, Neek tidak berniat untuk menjadikan kata ini sebagai materi komersil, ia membuat project tersebut hanya sebagai ungkapan kepribadian atas dirinya sendiri yang dianggap anti sosial. “Inspirasinya dari pengalaman saya sendiri. Saya tumbuh dengan rasa iri pada orang lain, hingga satu titik yang I don’t give a f.. lagi. Dengan perasaan itulah saya membuat Anti Social Social Club”, jelas Neek pada Hypebeast (aplikasi dan website yang berfungsi sebagai marketplace produk hypebeast).

    Tidak sulit untuk memberikan kritik atas segala ciri dan gaya hidup seorang hypebeast yang konsumtif dan impulsif. Meskipun begitu, di sisi lain, terdapat pula persepsi dalam masyarakat yang melihat hypebeast sebagai suatu tolak ukur yang menjadikan seseorang menjadi peka terhadap selera fashion yang dapat bertahan selamanya (timeless). Tren ini juga menunjukkan kebebasan berekspresi manusia yang dituangkan melalui segala yang dikenakannya, secara bebas, tanpa adanya aturan atau ekspektasi orang lain. Secara ekonomi, mannfaat lain dari adanya kaum hypebeast yakni munculnya peluang untuk hadirnya instrumen investasi baru dikarenakan harganya yang volatil di pasar. Pada akhirnya, tidak terdapat kesimpulan yang menyatakan secara jelas apakah seorang hypebeast dapat dikatakan seorang yang konsumtif atau, sebaliknya, merupakan wujud kebebasan berkespresi. Dalam menentukannya, hal ini sangat bergantung pada Anda, termasuk alasan yang mendasari perilaku Anda untuk menggunakan produk yang tergolong hypebeast tersebut.

    Photo: Pinterest

    Terkait